Keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) tidak bisa menjadi andalan di daerah untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus terkendala, karena lokasi SLB umumnya berada di kota,
sementara para siswa yang harusnya menimba ilmu di SLB tersebar di berbagai tempat.
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda) setempat mulai melakukan sosialisasi perlunya lembaga pendidikan inklusi. Di Kabupaten Bojonegoro jumlah SLB masih terbatas.
Data dari Disdikda setempat mencatat SMP LB 7 lembaga dan SMA LB 7 lembaga. Sebenarnya masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang ingin mendapat pendidikan.
Akibat ketidaktahuan orang tua dan terbentur biaya menjadikan mereka tertinggal dari anak-anak lainnya.
"Kita akan buat pilot project sekolah inklusi bagi anak-anak berkebutuhan khusus," jelas Kasi Kesiswaan TK/SD Disdikda Bojonegoro, Karni, saat seminar di Pendopo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) (25/2/2012).
Seminar pendidikan inklusi diikuti sedikitnya 500 peserta terdiri kepala sekolah, guru,pemerhati pendidikan, mahasiswa, dan siswa mulai SD sampai SMA.
Menurut Karni, selama ini para guru tidak pernah dibekali kemampuan untuk mengindentifikasi setiap anak. Baru tahun ini, para guru mendapat pengetahuan soal anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan sekolah inklusi, anak-anak berkebutuhan khusus yang umumnya menempuh pendidikan di SLB bisa belajar di sekolah reguler. Nantinya, sekolah reguler yang ditunjuk menjadi sekolah inklusi harus mau menerima beragam anak-anak berkebutuhan khusus.
Bukan hanya anak cacat fisik dan lemah belajar, anak cerdas istimewa juga mesti dilayani secara khusus.
(oleh:djs)
